Cahaya silau menerpa mataku, ternyata hari sudah terang, entah siapa yang menutupi tubuhnku dengan selimut, karena aku sudah terbungkus dalam selimut, walau masih tetap telanjang, ketika kulirik ternyata aku sendirian, lalu kemana emapat wanit yang semalam menemaniku ?,
Aku bangkit dari tempat tidur dan seperti biasa, batangku juga ikut ’bangun’ dengan menguap lebar aku melangkah mengambil air minum, lalu kekamar mandi, ketika kubuka pintunya ”Aw..” sebuah teriakan kecil mengejutkan ku, ternyata Cintya sedang berendam di bathtub, dengan busa dan gelembung sabun menutupi tubuhnya, ”Pagi...” kataku, ”yang lain nya kemana?” tanyaku sambil melangkah ke toilet dan sambil menunggu jawabannya aku membuang air seniku ditoilet, wah..banyak sekali pagi ini, mungkin karena habis terforsir semalaman. ”Lagi pada jalan.., katanya sih mau cari oleh-oleh” jawabnya, ”Ok..ya udah santai aja Cyn.., kataku..sambil melangkah ke washtafel, mengambil sikat gigi dan menggosok gigiku.
”Ikutan ya ?” pintaku menghampiri bathtub, dan dengan segera Cynthia memberika ruang bagiku dihadapannya, dan kamipun berendam bersama, namun karena tidak cukup lebar maka posisi kami berhadapan.
Kakiku yang satu menumpangi pahanya dan kaki satunya ditumpangi oleh kaki Cinthya dan isengnya...jari jari kakinya menyentuh batang kemaluanku.
” Mas ..” kata Cynthia lembut
”Hmmm..”jawabku sambil tetap memejamkan mata menikmati hangatnya air sabun dan sntuhan kakinya di kemaluanku.
”Aaaah...males ih.., mau diajak ngobrol malah merem..”katanya manja
Ia bangkit, menarik tanganku dan kamipun berdiri, tanpa menggunakan aba aba kami sudah berpelukan dengan tubuh licin karena busa sabun, seperti ikan belut ia menggelinjang dan menggeserkan tubuh dan buah dadanya yang besar merangsang itu ditubuhku, kemaluanku yang tegang bertambah keras rasanya.
Kunyalakan air dan memancur melalui deuce yang digantung dan sambil berpelukankami membersihkan busa sabun yang memenuhi tubuh kami.
Sambil berpelukan dan berciuman, tanpa mengeringkan tubuh kami menuju ranjang dan langsung bergumul. Kali ini tanpa ada yang ’mengganggu’, kunikmati betul buah dada yang besar itu, kuremas, kuhisap putingnya, kusedot dan kumainkan sepuas mungkin sementara Cynthia juga tidak tinggal diam, tangannya memainkan dan meremas kemaluanku.
Dengan posisi diatas aku leluasa mengatur permainan, kini dengan lidah menelusuri tubuhnya terus kebawah aku sampai di vaginanya. Saat terang begini terlihat kalau vaginanya masih bagus, sedikit direkahkan nampak kemerahan dengan kebasahan yang mengundang selera, dan Cintya memang berkulit halus, tidak terlalu putih namun juga tidak gelap, puting susunya merah kecoklatan, dan klitorisnya masih sangat ’layak’ dijilat.
Aku tidak mau tanggung, kuganjal pinggulnya dan kuangkat kakinya sehingga aku semakin leluasa mengembara di vaginanya, sesekali kuberi ’perjalanan keliling dunia’ ketika lidahku menyapu anusnya, lalu tanpa memberi kesempatan lagi aku bangkit dan meletakan kakinya di pundakku, dan batang kemaluanku sudah terarah ke vaginanya.
”Mmm...kemulut dulu...” protesnya
”ssshh...udah nggak tahan nih...” kataku
Memang siapa yang akan tahan lama pagi pagi bersetubuh, itu hukum alam, kalau pagi, setelah bangun tidur, sperma sudah diperoduksi maksimum pasti tidak akan bertahan lama, apalagi wanita yang kuhadapi ini memiliki mulut yang sedemikian nikmatnya.
”Blessss..” kemaluanku langsung kutanamkan sedalam mungkin hingga matanya agak terbeliak saat vaginanya dimasuki langsung begitu, lalu pantatku mulai mengayun dengan irama yang teratur.,
Kini dapat kurasakan benar bagaimana nikmatnya vagina Cinthya, legit dan enak.
Kurendahkan tubuhku sambil tetap bergoyang dengan irama yang teratur dan mulutku berhasil mencapai mulutnya dengan kakinya masih tetap dipundaku, vaginanya seakan menelan kemaluanku, dan posisi ini ternyata membuatnya sangat nikmat..”ah..ah...,sssh...enak...aduh...enak....ah hh” racaunya tak henti henti, dan akhirnya ”cepet ...cepet....mau keluar...” aku mengayunkan pinggulku semaksimal mungkin dan bersamaan kami mencapai puncak...”sssh..ah.ssshh..hhh” entah usra dan lenguhan siapa yang paling keras. Air maniku pun pagi ini sudah menyiram rahim dan vagina Cynthia. Ejakulasi yang pertama pagi ini.
Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa sisa getaran kenikmatan, sebelum terkulai.
”Mas..., kalau Mas Andi ada...pasti langsung di masukin lagi nih, dia paling senang kalau habis dipakai begini langsung masuk” katanya menceritakan suaminya
”Iya..” jawabku, ”Memang enak kok...sloopy second” jawabku dan ia tersenyum, mencium bibirku lalu bangkit menuju kamar mandi membersihkan diri.
Aku juga bangkit, namun mengambil rokok dan menghisapnya penuh nikmat.
Cintya lalu kembali dan kami ngobrol macam macam hal. Masih tetap telanjang dan aku sungguh senang menatap buah dadanya yang besar itu, namun padat dan kencang menantang.
Agak lama kami menunggu hingga Anita dan lainnya kembali, dan saat mereka tiba ”Wah.....bugil bugilan” kata istriku menghampiriku dan mencium bibirku, aku tahu ia pasti mencium aroma vagina di wajahku karena dengan kerling nakal ia berkata..”Curang ya..udah start lagi” katanya. Aku hanya tersenyum.
Kami sarapan dikamar, dan wajah heran waitres yang mengantarkan makanan tak kuasa ia sembunyikan melihat 4 wanita, yang satu hanya menutupi tubuhnya dengan selimut saat masuk dan aku yang juga masih telanjang cuma menutupi ’barang’ ku dengan bantal.
Setelah kenyang, kami jalan jalan dipantai, wah...seperti raja dengan 4 permaisuri saja rasanya aku hari itu, sampai lupa memberi laporan sama suami suami yang tertahan dengan pekerjaan.
”Hallo..., Hey..gimana...” suara Sonny memasuki gendang telingaku saat Wirda memberikan HP nya padaku ketika suaminya menelpon ”Man...your wife ...lezat bener rasanya..” kataku , ”Sialan...., enak ya loe...gila...semua digilir..? tanyanya.
”Bukan ..mereka yang menggilirku” jawabku sekenanya.
”Nih..Andi mau ngomong” katanya
”Hey,..thank’s ya...pagi pagi Cintya udah sarapan tuh...sarapan rohani...eh...susunya itu..aduh...nggak bosen deh ” kataku sambil tertawa. ”Diancuk....” Andi yang berasal dari Jawa Timur memaki dengan logatnya yang khas dan kepada Herman pun aku sempat mengucapkan salam dan berkata ”Man..Irene mulutnya luar biasa ya... thank’s ya sering sering aja kalian lembur begini ha..ha...”.
Suara tawa terdengar di ujung sebelah sana, memang begitulah pujian tentang bagaimana nikmatnya rasa istri dari teman yang mencobanya adalah nilai yang sangat ditunggu, karena memberikan kebanggan.
Siang itu, karena hari masih panjang, kami bersantai dan saat Irene dengan Cintya berenang, aku ’ditangkap’ oleh Wirda, awalnya aku disuruh telungkup, lalu punggungku dijilati dari leher samapi pantat, di belahnya pantatku dan lidahnya menari nari disitu, aku kali ini tidak diberi kesempatan menjilatinya karena saat berbalik, ia langsung berada diatasku dan membenamkan batang kemaluanku dalam vaginanya, cukup lama kami bersetubuh, karena tadi sudah keluar di vagina Cynthia aku jadi agak lama, istriku kali ini hanya menonton, asli menonton memperhatikan setiap gerakan kami, mengamati saat aku dihisap, dijilat dan sebaliknya, dan rupanya ia menunggu, karena setelah Wirda mencapai puncaknya terkulai dan lepas dari tubuhku, kemaluanku sudah memasuki vaginanya, aku masih tetap dalam posisi dibawah. Hingga kami sama sama mencapai nirwana.
Pas saat aku melepaskan kemaluanku dari vagina istriku, Irene dan Cynthia masuk, mereka tersenyum dan Irene menghampiriku lalu ’membersihkan’ punyaku dengan lidahnya ”Pemanasan’ katanya..ketika aku memandangnya. ”Habis ini ya”
Setelah beristirahat sebentar, Irene berusaha keras membangunkanku yang lalu menuntaskan hasratnya dengan liarnya, kali ini ketiga wanita yang lain menjadi penonton,.. hingga....... menjelang kami mencapai puncak, Irene mencapai tujuannya beberapa saat lebih dahulu, dan ampun.............saat aku keluar seperti sudah berjanji Irene melepaskan kemaluanku dan ketiga mulut yang selalu ’haus’ itu menjilati dan menghisap air mani yang keluar sampai ngilu aku dibuatnya.
Kami masih bersantai hingga sekitar Pk. 15.00, dan sesaat sebelum berkemas mereka gantian kembali menjilat dan menghisap batang kemaluanku, namun hanya istriku yang menerima air maniku karena aku mengeluarkannya dalam-dalam di mulutnya, ...namanya juga etika suami istri.... lalu kami pun siap untuk pulang ke Jakarta,
Hampir sepanjang perjalanan pulang semua tertidur karena lelah dan ini adalah perjalanan terberat yang kulakukan, mataku benar benar berjuang untuk tetap terbuka dan menjaga konsntrasi pada jalan raya.
Perlu waktu hampir tiga hari bagiku untuk memulihkan kondisi, bahkan dua hari pertama setelah pulang punyaku sama sekali tidak bangkit walau pagi hari sekalipun, terlalu diforsir rupanya, namun pengalaman tersebut adalah salah satu yang sangat mengesankan.
Tamat